RTP

Konsekuensi Pengurangan RTP di Industri Judi Inggris (v1)

· 2 mnt

Dengan meningkatnya beban fiskal, pengelola kasino di Inggris mencari cara untuk mempertahankan keuntungan dengan mengurangi persentase RTP (Return to Player). Namun, langkah ini dapat menimbulkan efek balik, seperti yang dialami oleh Jerman. Seiring kenaikan pajak, keuntungan per taruhan menurun. Kondisi ini memerlukan strategi yang efektif, terutama di pasar Inggris yang sangat kompetitif.

Salah satu pendekatannya adalah dengan menurunkan RTP pada permainan slot guna mengatasi pajak yang meningkat. Secara teori, hal ini tampak menguntungkan: RTP yang lebih rendah berarti keuntungan per putaran lebih tinggi. Meskipun hitungannya tampak sederhana, dampak ekonomisnya tidak sesederhana itu, sebagaimana diuraikan oleh Regulus Partners.

Keuntungan dari strategi memotong RTP dapat dirasakan dengan jelas. Perusahaan dapat menawarkan variasi RTP berbeda untuk permainan yang sama, biasanya 96%, 94%, atau 92%, tanpa mengubah esensi produknya. Helen Walton, co-founder G Games, menegaskan bahwa “RTP adalah alat penetapan harga yang strategis. Industri telah menggunakannya secara aktif.” Di Inggris, ia mencatat bahwa “RTP rata-rata kini turun dari sekitar 96% ke 94%, dan 92% menjadi batas tertinggi yang diperbolehkan.” Walau perubahannya kecil, efeknya signifikan terhadap durasi permainan dan kesempatan pemain meraih fitur bonus, sehingga secara keseluruhan mengubah nilai hiburan permainan.

Salah satu asumsi utama dari penurunan RTP adalah kebanyakan pemain mungkin tidak menyadarinya. Namun, pendapat dalam industri bervariasi. Walton berpendapat bahwa walau pemain mungkin tidak secara spesifik menghitung RTP, mereka merasakannya ketika mengelola uang mereka. Selain itu, dinamika pasar iGaming juga terpengaruh oleh faktor eksternal seperti pengaruh aktivis di iGaming, yang turut menambah kompleksitas dalam pengambilan keputusan strategis.